Sabtu, 20 Oktober 2012

Menanti di Ujung Batas (Puisi)


Menanti di Ujung Batas

Gerlap langkah memecah sunyi
Terbesit bayang - bayang gelap
Di ujung pintu sana kau berpijak sejenak
Langkah - langkah mungil itu
Seolah lenyap entah ke mana
Dan sampai kapan harus ku lakukan
Hal serupa berulang - ulang
Di balik pintu ini ,
Penantianku tiada henti
Hanya padamu, hingga kau kembali
Mungkin . . .
Penantian ini ‘kan berujung ketika senja
Bersama, tak ‘kan kulupa kenangan manis itu
Haruskah kata perpisahan kuucapkan
Tak kuasa menerima kenyataan
Dengan berat hati,
Selamat jalan cahaya kalbu
Kembalilah dengan sejuta kisah


Karya : Pande Bayu Pratama

Biarlah Wajah Berbicara (Puisi)


Biarlah Wajah Berbicara

Dan ketika tiba waktunya
Semua tampak berbeda
Wajah - wajah lama terlihat murka
Senyum, tanda kecewa saat ini melanda
Suyup - suyup terdengar “kenapa dia”
Dari sini gamblang terdengar lantunan kata - kata mereka
Tapi ada sedikit celah tatkala ia menerka - nerka

Tak apa . . .
Setelah terbiasa, semua ‘kan kembali seperti semula
Namun tetap saja ada tanda - tanda
Bahwa semua belum pulih apa adanya di tempat berada
Entah sampai kapan ini semua
Kubiarkan semua terpaut pada sepasang mata
Tajam melirik seluruh ruang menggema

Biarkan saja,
Empat puluh menit menanti akhir bahagia
Terjawab sudah bisikan “kenapa dia”
Bergejolak, menitik pada dunia fana
Saat semua berganti wajah, bersandiwara
Inilah wajah lama sesungguhnya
Tanpa corak kian membahana
Dan mungkin saja . . .
Itu akhir yang bahagia,
Di saat semua wajah tertawa



                              Karya : Pande Bayu Pratama

Sabtu, 08 September 2012

Menanti Sebuah Balasan (Puisi)


Menanti Sebuah Balasan

Mulai terlintas dalam memori
Tatkala berdenting suatu pertanda
Sepi tenang sendu sesaat
Entah apa yang diantar olehnya

Selembar kertas haus akan kenangan
Meminta ia sepasang mata
Melihat alur kehidupan yang tersurat
Pelan tersentuhlah ia
Menerawang rangkaian aksara bertinta hitam
Sengaja jatuh butiran bening
Girang, mata itu bersinar
Oh . . .
Betapa lembut tutur-tutur kata
Terselip dalam garis-garis kelabu

Bergejolak segala angga
Mendekat, lalu diambil sebuah pena
Pena hitam lain mulai berdansa
Pada selembar kertas itu jua
Beradu di balik latar salju






 Buah Karya : Pande Bayu Pratama

Jika Aku Mati (Puisi)

Jika Aku Mati

Kata-kata halus berbisik dalam kalbu
Mencoba Mengungkap misteri ilahi
Mustahil . . .
Dengan semangat membara ia menjawab cepat
Inilah raga-raga yang terjatuh
Inilah jiwa-jiwa yang terperangkap di alam dusta
Dan kamilah yang sedang mencari
Mencari sebuah makna agar tetap bertahan
Bak lilin kecil yang tertiup angin
Kendatipun ia tahu, bahwa kelak akan padam
Kendatipun masih terus menyala
Habislah sudah ia
Terlarut dalam suasana itu
Maka inilah hidup
Berbatas dengan dua sisi berlainan
Maka jangan kau takut jika kelak
Takdirmu serupa dengan lilin itu
Sebelum berakhir menuju nirwana
Akan kuterangi seisi jagat raya
Dan jika aku mati
Jangan biarkan lilin itu padam
Sebelum habis sudah ia




 Karya : Pande Bayu Pratama